Jumat, 16 Oktober 2009

Tips membuat bangunan tahan gempa

Gempa bumi yang terjadi di Sumatera Barat pada 30 September kemarin membuat para pemilik rumah atau bangunan berpikir kembali untuk membuat rumah/bangunan tahan gempa. Apalagi daerah-daerah di Indonesia hampir tak ada yang aman dari gempa.

Pada dasarnya terdapat tiga filosofi bangunan tahan gempa itu, yaitu:

  • Bila terjadi Gempa Ringan, bangunan tidak boleh mengalami kerusakan baik pada komponen non-struktural (dinding retak, genting dan langit-langit jatuh, kaca pecah, dsb) maupun pada komponen strukturalnya (kolom dan balok retak, pondasi amblas, dsb).
  • Bila terjadi Gempa Sedang, bangunan boleh mengalami kerusakan pada komponen non-strukturalnya akan tetapi komponen struktural tidak boleh rusak.
  • Bila terjadi Gempa Besar, bangunan boleh mengalami kerusakan baik pada komponen non-struktural maupun komponen strukturalnya, akan tetapi jiwa penghuni bangunan tetap selamat, artinya sebelum bangunan runtuh masih cukup waktu bagi penghuni bangunan untuk keluar/mengungsi ke tempat aman.
Memang sangat sulit menghindari kerusakan bangunan akibat gempa, namun paling tidak kerusakan berat dan jumlah korban dapat diminimalkan, sehingga kerugian akibat gempa dapat ditekan sesedikit mungkin. Berikut ini beberapa hal yang dimungkinkan agar suatu rumah/bangunan mampu bertahan dari goncangan gempa.

Perhatikan fondasi bangunan. Pada dasarnya fondasi yang baik adalah seimbang atau simetris. Baik konstruksi maupun kekuatan pendukungnya. Lebih baik membuat rata bagian dasar peletak fondasi sebelum membuat fondasi itu sendiri. Begitu pula dengan pembuatan tulangan kolom harus diteruskan sampai ke fondasi bangunan. Gunakan angkur untuk menguatkan ikatan kolom dengan dinding, jarak vertikal antar angkur adalah 30 cm.

Bahan pembuat dinding menggunakan bahan yang ringan dan kaku. Begitu pula dengan bahan atap, sebaiknya dari bahan yang ringan. Ikatan struktur dan kuda-kuda atap harus kuat.
Gunakan bantalan karet alam di antara pondasi dan bangunan. Penggunaan Bantalan karet alam untuk melindungi bangunan terhadap gempa bumi, yang dikenal sebagai base isolation tampaknya akan semakin luas dan berkembang di masa mendatang. Indonesia sebagai salah satu negara yang rawan gempa perlu teknologi pembuatan bantalan tahan gempa.

Balai Penelitian Teknologi karet Bogor sebagai Balai Penelitian mempunyai teknologi pembuatan bantalan tahan gempa yang digunakan untuk rumah tinggal maupun maupun gedung bertingkat.



Bantalan karet


Bantalan yang digunakan untuk melindungi gempa bumi dibuat dari kombinasi lempengan karet alam dan lempeng baja. Bantalan tersebut dipasang di setiap kolom yaitu di antara pondasi dan bangunan. Karet alam berfungsi untuk mengurangi getaran akibat gempa bumi sedangkan lempeng baja digunakan untuk menambah kekakuan bantalan karet sehingga penurunan bangunan saat bertumpu diatas bantalan karet tidak besar.

Atau struktur dan pondasi bangunan meniru konstruksi bangunan di Kampung Naga yang didesain dengan filosofi adat Sunda, yang hanya terbuat dari bambu dan kayu beratap ijuk. Rumah bernuansa kearifan lokal ini lebih bersahabat dengan alam, ini terbukti saat terjadi gempa di Tasikmalaya kemarin tidak mengalami kerusakan yang berarti.


Rumah Kampung Naga

Rumah Kampung Naga yang seluruh rumahnya dibuat dengan filosofi adat Sunda yang terbuat dari kayu dan bambu beratap Ijuk (Injuk : Bahasa Sunda) tersebut, tidak mengalami kerusakan sedikit pun padahal posisinya berada di Lembah perbukitan Garut Tasikmalaya, yang lebih rentan dan berbahaya dibanding tempat lain jika terjadi Gempa Tektonik.

source : http://1.bp.blogspot.com/

0 komentar:

Poskan Komentar